Nagari Tanjung Bonai Aur

Kecamatan Sumpur Kudus
Kabupaten Sijunjung - Sumatera Barat

Artikel

Sejarah Nagari

Administrator

22 Juli 2025

71 Kali Dibaca

Sejarah Nagari Tanjung Bonai Aur

Sejarah Nagari Terbentuknya Nagari.

Pada abad ke – 9 kedatangan penduduk adalah dari  Lereng Gunung Merapi yaitu Pariangan Padang Panjang.

Tuo ulayat Cancang Latieh yang mulo-mulo turun dari Pariangan Padang Panjang adalah Empat orang tuo (oleh masyarakat dipanggil ‘Rang Kayo’) karena kayo dengan adat dan Pusoko. Yang seorang bergelar Dt. Cumano, Dt. Perpatih Nan Sabatang, Dt. Perpatih Suanggi dan yang satu lagi bergelar Dt. Jalelo, keempat orang tersebut turun dari Pariangan Padang Panjang bersama dengan rombongan menuju ke Selatan dari Pariangan dan menempat di Aur Seriau setelah tiba di tempat itu maka beliau bersama rombongan sepakat membuat Cancang Latiah dan dibuat pemukiman  yang waktu itu di beri nama Taratak Aur Seriau yang asal katanya “ Awal Saiyo”. Kemudian setelah semakin ramai sepakat pula Taratak dijadikan sebagai Koto yaitu  Koto Kaciak. Salah seorang dari rang tuo tersebut yaitu  Dt. Perpatih Nan Sabatang yang juga membawa rombongan melanjutkan perjalanannya menyelusuri Sungai dari Aur Seriau dan menempat di Guguk Longgung, disini juga dibuat Taratak dan Koto yang bernama Koto Baranjak, semasa itu Dt. Perpatih Nan Sabatang mendengar kabar bahwa ada sanak dan kemenakannya di daerah Aie Gamuruah (Ulu Paliki) , maka dibawalah ke Guguk Loggung tersebut dengan sebutan Orang Korong Godang, yang sebelumnya di guguk longgung sudah ada rajo mangarah.

Kemudian setelah berkembang juga di Koto Kociek dan dari Koto Baranjak maka sepakat pulalah mencari pemukiman yang lebih luas maka  perkampungan ini dinamakan Koto Gadang.

Dalam perjalanan kedatangan orang tuo yang dua lagi Yaitu Dt. Cumano menepat di Payo Batu dan Dt. Jalelo di Tanjung Medan. Serta satu orang tuo datang lagi dan menepat di Gobah yaitu Dt. Rang Kayo Bungsu.

Kemudian dari itu turun pula seorang tuo (Rang Kayo) dari Pariangan Padang Panjang yang bergelar Dt. Paduko, beliau turun dari Pariangan Padang Panjang melalui Atar Taluk. Menyeberang dan menempat di Bikang bahagian utara yang berdekatan dengan Ngarai Putieh yaitu batas Nagari bahagian Utara saat ini. Dan beliau bertemu dengan 2 orang tuo yang dari Selatan di dekat sebatang kayu besar yang bernama Kayu Pogang, ketika itu ketiga rang kayo telah bersejarah tentang asal usul beliau masing-masing, yang sama-sama turun dari Pariangan Padang Panjang.

Dengan kedatangan satu orag rang kayo maka ada enam orang rang tuo. Kemudian ke-enam rang tuo tersebut berkumpul di rumah Dt. Perpatih Suanggi . maka dibagilah wilayah yang bagiannya tersebut yaitu Gunung dek Dt. Perpatih Suanggi, Bukik dek Dt. Perpatih Nan Sabatang ,  Padang Nan Datar dek Dt. Paduko, Payo Nan Lowe dek Dt. Cinamo, Padang Nan Luas dek Dt. Jalelo, Sagalo Muaro dek Dt. Rang Kayo Bungsu. Itulah nan dinamokan Hutan untuk cucu kamanakan, itulah yang dinamakan pembagian sodang duduak dan mufakat, dan dibuat nagari yang bernama Aur Kumani.

Kemudian secara diam-diam pergilah ke subarang dua orang rang tuo yaitu Dt. Cumano dan Dt. Jalelo serta tabao rombongannyo.

Maka hebohlah di Aur dan bermufakatlah Rang Tuo Nan Barampek siapa yang akan menjadi Panghulu Pucuk di Subarang (Kumanis). Maka terdapatlah kata sepakat yang menjadi pucuk di Subarang (Kumani)  yaitu Dt. Cumano dan nama Nagari tetap Aur Kumani

Setelah itu tiga orang di Aur berbincang-bincang, maka sepakat pula untuk membagi ulayat dan dicari tempat yang layak sebagai tempat duduk (mufakat)  dalam pembagian ulayat. yang pada waktu itu disepakati tempatnya di Air Timbu, dan dicari pula 3 buah batu untuk sandaran dan tempat itu diberi nama Batu Tigo dengan banyak batunya empat buah batu namun satu buah batu tidak jadi digunakan.

Sebelum dilakukan pembagian sepakat pula ke 3 orang tuo tersebut terlebih dahulu untuk meninjau lokasi yang ada di bahagian utara maka diselusuri dari kayu Pogang sampai ke ngarai Putieh,baringin sikuiek aur baririk ujung tanjung madok mudiek parik basiku dan batu bakakok di Nagari Taluk yaitu perbatasan nagari Tanjung Bonai Aur saat ini dan dengan nagari Tigo jangko serta Lubuk Jantan masing-masing kecamatan Lintau Buo Kab Tanah Datar.

Setelah selesai peninjauan lokasi tersebut maka kembali lagi ke tempat batu tigo guna untuk dilanjutkan pembahagian Ulayat dengan kesepakatan sebagai berikut;

  1. Ulayat bahagian Selatan dari kayu pogang di kuasai oleh Datuk Perpatih Suanggi
  2. Ulayat bahagian Timur dari Pogang dikuasai oleh Datuk Perpatih Sabatang
  3. Ulayat bahagian Utara dikuasai oleh Datuk Paduko

Sedangkan Ulayat bahagian Utara lebih luas dari ulayat bahagian selatan karena diperkirakan waktu itu pertambahan penduduk lebih banyak datang dari bahagian utara.

Selanjutnya beliau menetapkan batas-batas nagari sebagai berikut :

  1. Sebelah Utara berbatas dengan Ngarai Putieh,baringin sikuek sampai ke batu bakakok (Nagari Tigo jangko, Lubuk Jantan dan Nagari Taluk kec.Lintau Buo).
  2. Sebelah selatan berbatas dengan mejan bacium,labuh jawi (Nagari guguk dan Nagari Padang lawas Kec. Koto VII).
  3. Sebelah timur berbatas dengan Batu Bajanjang Nagari Padang Lawas.
  4. Sebelah Barat berbatas dengan Batu Bakakok Kenagarian Taluk.

Kemudian dari itu turun pula 1 orang lagi orang Tuo (rangkayo) yang bagala Dt.Rajo Mangawal yang turun dari Pariangan Padang Panjang melalui Batu Bulek –Taluak sampai ditepi sinamar dan selanjutnya beliau langsung menyeberang dengan sebatang Aur yang menjulai dari seberang keseberang ,setelah sampai beliau kesubarang, beliau melanjutkan perjalanannya ke Utara dan basuo Kampung dengan dataran yang baik sehingga dinamai lokasi itu Kampung suo, setelah itu beliau melanjutkan perjalanannya ke utara dan bertemu pula dataran dan rawa sehingga beliau waktu itu pikirannya tatumbuk (tatobek) dan diberi nama lokasi itu sawah tobek karena tidak ada lagi dataran yang mungkin untuk di garap lagi.

Dengan adanya kedatangan Dt.Rajo Mangawal ini diketahui oleh Dt.Paduko yang waktu itu telah bertempat Padang Bonai, maka kedatangan rangtuo ini tidak bisa diputuskan oleh Dt.Paduko dan dipanggillah Dunsanak yang berdua yang bertempat di Koto Gadang. Dan dilakukanlah mufakat ditempat yang paliang elok (dipiliang) dengan mencari 4 buah batu untuk tempat duduk bersandar (di dekat jalan ke surau Cimbio sekarang).

Setelah diceritakan pembahagian oleh rang Tuo yang bertiga maka diminta lah oleh Dt.Rajo Mangawal, Lubuak lah yang paling topek dek ambo. Maka Permintaan Dt. Rajo Mangawal disetujui oleh rang Tuo Dt. Perpatih Sabatang, Dt. Perpatih Suanggi dan Dt. Paduko .

Kemudian ke empat orang Tuo tersebut telah sepakat pula untuk membuat Monografi nagari dan sekaligus disepakati untuk menyusun suku, maka kesepakatan beliau barampek suku yang disepakati menjadi 4 suku sebagai berikut;

  1. Suku Caniago yang dipegang oleh Datuk Perpatih Sabatang (Panghulu pucuak).
  2. Suku Melayu yang dipegang oleh Datuk Perpatih Suanggi (panghulu pucuak)
  3. Suku Petopang yang dipegang oleh Datuk Paduko (panghulu pucuak).
  4. Suku Piliang yang dipegang oleh Datuk Rajo Mangawal (panghulu pucuak).

Dan disepakati pula untuk pembagian Teratak, dari teratak menjadi Koto terbagi menjadi Teratak 8 dan Koto 8 Sembilan dengan Sabiluru yang sekarang masuk nagari Tamparungo dengan rincian sebagai berikut;

Kok ketek dinamokan Teratak dan kok Gadang dinamakan Koto yaitu sbb;

Teratak terdiri dari ;

  1. Teratak Tigo Guguak
  2. Teratak Longgang
  3. Teratak Guguak Mangkudu
  4. Teratak Balai-balai
  5. Teratak Ulu Paliki
  6. Teratak Parit
  7. Teratak Buah bungo
  8. Teratak Puntian

Dan Koto Terdiri dari;

  1. Koto Kociek
  2. Koto Baranjak
  3. Koto Gadang
  4. Koto Pupuan
  5. Koto Puntian
  6. Koto Tongah
  7. Koto Tinggi
  8. Koto Baru, dan
  9. Koto Sabiluruh

Pada abad ke 13 ada seorang Syehk yang bernama syehk Ibrahim beliau berasal dari kudus di daerah jawa, beliau mencari suatu tempat yang ditemukan melalui sebuah mimpi, mimpi beliau adalah “ disuatu tempat ada suatu benda ajaib yang kalau dipakai dan dipelihara akan banyak manfaatnya” setelah lama beliau berkelana beliau bermimpi lagi bahwa beliau belum sampai pada tempat yang di tuju, mimpi beliau tempatnya ada kayu besar Sitopuang Bungkuak. Akhirnya beliau sampai disuatu tempat yang bernama Aur Siriau, disinilah dia mencari kayu tersebut sesampainya dilokasi kayu Sitopuang Bungkuak beliau menemukan ada binatang besar yang keluar masuk lubang. Karena itulah tempat yang dituju dalam mimpinya dulu sambil berkata “ Iko Bau” artinya ini barulah ketemu tempat yang dicari itu dan binatang itu dinamakan Kobau, semakin banyaknya keluar masuk binatang itu maka ditutuplah lubang itu dengan memancung sebatang aur dan ditancapkan disitu maka aur itu benama aur Duoto, sampai saat ini tempat tersebut dijadikan tempat berkaul ternak dan pintu kandang ternak harus menghadap ke aur Duoto tersebut. Disini beliau menetap diKoto Gadang menginap waktu itu dirumah Datuk Perpatih sabatang selama beliau meninjau keadaan penduduk  yang waktu itu masyarakatnya makan Ular, kaluang, kelelawar, berjudi, penyabung yang tempatnya dibawah kayu pogang (dekat lapangan Loban Bungkuak sekarang). 

Setelah diketahui tentang perbuatan dari penduduk yang berada disekitar itu, maka timbullah minat Syehk Ibrahim untuk menyampaikan ajaran Islam dengan cara tipu muslihat, dimasa itu berjangkitnya penyakit kulit dan untuk mengobatinya sehingga penduduk diajarkan membaca dua kulimah syahadat dan apabila penyakitnya belum juga sembuh maka disebutkanlah pantangannya seperti tidak boleh memakan kelelawar, babi, tikus dan sebagainya dan sewaktu penduduk akan pergi mandi ketempat sumber air dipincuran angin  yang ada di sekitar mesjid Pincuran Tujuh saat ini, cara beliau menyampaikan ajaran kepada penduduk, sambil  duduk diatas sebuah batu ditepi jalan kesumber air dan untuk mensunat rasulkannya (khitanan) diletakkanlah sebuah batu dekat pincuran Tujuh tersebut yang disampingnya dibuat dua buah batu bergandengan untuk tempat duduk dan sandaran yang menyunatkan.

Berkat cara penyampaian dengan cara tersebut, maka masyarakat mau menerima ajaran itu dan kemudian dibangunlah Mesjid bersama-sama dan membendung sumber air tersebut dan dibuat Pincuran sebanyak 7 buah yang melambangkan kebesaran dan kesucian dari rang Tuo yang batujuah dan dua buah Pincuran hulunya ada yang di dekatkan dan ini di bahagian atas dipinggir jalan kemesjid tauhid, yang menjaga pincuran tersebut adalah Dt. Paduko Sinaro, Dt.Gindo Jalelo, Dt. Mangkuto Alam, Dt. Sirajo, Dt. Tambijayo, satu buah pincuran dipaliharo oleh Malin Kuniang dan Pokieh Garang dan satu lagi oleh Dt.Mantiko Sati.  Didekat itulah rumah Syehk Ibrahim yang dikenal dengan nama Inyiek Tanah Bato dan juga sering sebutannya Inyiek Parumahan, yang dinamakan tanah bato adalah sebelumnya jalan untuk ke Mesjid Tauhid melalui pinggiran Pincuran Tujuh maka untuk menghalangi pandangan ketempat pemandian dibuatlah jalan dengan menggali tanah dari dekat batu tempat duduk inyiek yang langsung mengarah ke Mesjid Tauhid sehingga jalan tersebut bercabang dua yang kearah pincuran dan langsung ke Mesjid dan pembatas pandangan ke Pincuran Tujuh dari jalan ke Mesjid adalah campuran Tanah Galian dengan bebatuan sehingga lazim disebut Tanah Bato dan  waktu itu Nagari Aur Kumani tetap satu. Dari sinilah berulangnya Inyiek Tanah Bato ke Sumpur Kudus dengan membawa satu ekor kerbau pembajak sawah.

Pada sekitar Abad 14 datanglah seorang raja bersama rombongan yang menyusuri batang Kaweh (sinamar), sesampainya dibiaro kapalnya tersangkut batu ajaib, setelah didaratan raja menimbang batu ajaib tersebut dengan sebuah permata yang bernama ”jonggi” dan raja memutuskan disinilah tempat bermukim yang baik yang bertempat di Tanjung Medan. Raja tersebut bernama Sultan Maharajo Dirajo atau lebih dikenal dengan rajo Alam. Didalam perjalanan Rajo Alam mendapat sebuah telur yang setelah menetas ternyata itu telur buaya. anak buaya tersebut dipelihara oleh anak rajo Alam yang diberi nama “Tumanggung”, rupanya setelah buaya besar membawa petaka, dimana anak rajo Alam dimakan buaya. Setelah dikumpulkan hulubalang tidak ada yang berani membunuh buaya tersebut, maka dipanggillah oleh rajo alam seluruh Dubalangnya. Salah seorang Dubalang mengusul yang sanggup untuk membunuh buaya itu ada seorang sakti yang tinggal didaerah Agang yang di sebut Gunung nan Tanggagh (kajok) dan namun untuk menjeputnya tidak seorangpun yang berani dan yang menyanggupi untuk menjeputnya adalah Intan Batuah. Menurut istrinya untuk membangunkan pandeka kajok  dengan menggunakan besi panas yang ditempelkan dibadannya. Sesampainya di istana, pandeka kajok menyanggupinya, setelah buaya mati pandeka kajok diberi hadiah emas oleh rajo alam namun ditolak dengan halus, mendengar penolakan pandeka kajok tentang hadiah yang diberikan rajo alam berpikir dan di angkatlah sebagai Dubalang Rajo alam dan diberi wilayah yang tak lakang dek paneh dak lapuak dek hujan. Untuk keamanan kerajaan, rajo Alam memagar tempat pemandian itu dengan ruyung yang didatangkan dari ibul (bukit bual). Setelah pemandian dipagar dengan ruyung maka kerajaan ini terkenal dengan nama Pagaruyung.

Dalam pada itu timbullah kekacauan di Rantau Kuantan dalam hal ini terlebih dahulu telah ditanya ilmu apa yang dimiliki oleh Dubalang Kajok  maka dijawab ilmu yang saya pakai adalah sahabat nan anam belas. Maka untuk mengatasi kerusuhan di rantau kuantan yang ingin direbut oleh raja singiang-ngiang (raja jambi) rajo  Alam(rajo Pagaruyung) bersama Inyiek mengutus Dubalang kajok dengan 16 orang pilihan dari nagari Aur Kumani (ini yang menjadi pusako Datuak 16). Sepulangnya dari rantau Kuantan setelah berhasil menaklukkan rajo singiang-ngiang, dibantailah Kerbau putieh yang tanduknya sebelah keatas dan sebelah lagi kebawah, maka sepakat Inyiek dengan rajo Alam semasa itu, dikarenakan rantau lah salasai nagari lah aman  maka dilakukan sumpah sotieh “digantuang  tinggi dikalian dalam” maka ditumpahkanlah adat ka datuak nan 16 yang bertempat dikubang tigo baririk  serta disusun tatanan adat dan pusoko serta dengan dibuatnya Balai Adat Datuk nan anam belas yang bertempat di Koto Gadang. Dan Dubalang kajok diberi jabatan sebagai Rajo untuk rantau kuantan yang kurang oso (satu)dua puluh,dua puluh dengan muaro sijunjung dan diangkat menjadi adiek Bungsu Niniek kakak tuo datuak nan 16 maka gelarnya menjadi Datuak Rajo Dubalang.

Sebagai rajo kuantan Datuak Rajo Dubalang tidak membangun istana didaerah kekuasaannya, tetapi datang kesana sewaktu diperlukan saja dan ditetapkan yang mewakilinya yang melaksanakan dan menjalankan roda pemerintahan .

Seiring dengan perjalanan waktu para pembesar Istana pagaruyung berpendapat dengan kejadian yang dialami raja dengan kematian anak nya maka kerajaan harus dipindahkan kelokasi lain yang lebih baik, karena itu raja bersama pengikut mencari tempat maka ditemukanlah didaerah dikaki bukit batu patah atau pagaruyung sekarang.

Seiring dengan perpindahan rajo alam maka Inyiek Cumano dikumani membuat Balai Adat yang bertempat di Koto Kumani dan diPadang Bonai juga mendirikan Balai Adat Datuak nan balimo yang bertempat di depan kantor Wali Nagari Tanjung Bonai Aur sekarang. Dengan sendirinya Nagari bernama nagari Aur dan nagari Kumani.

Nagari Aur menganut sistem adat;

Pisang kolek-kolek hutan

Pisang Timbatu yang bagota

Samo babungo kaduonyo

Bodi caniago bukan

Koto Piliang anta

Samo baguno kaduonyo.

Susunan adat dan pusoko merupakan sebuah perahu yaitu pakai haluan dan kamudi.

Haluan adalah Dt.Perpatih Suanggi (urusan Syarak)

Kamudi adalah Dt.Perpatih Sabatang (urusan Adat)

Dan nagari ini berbentuk nagari kesatuan yaitu baniniek nan barampek balimo dengan Datuak Rajo Dubalang dengan susunan pusoko sebagai berikut;

Pusoko nan sapuluah di ate (pusoko Tinggi)

Yang terdiri dari:

Niniek barampek balimo jo Datuak Rajo Dubalang

Malin barampek balimo jo Pokieh Kadli

Badatuak nan anam boleh (16) dan badatuak nan balimo

Badatuak Panghulu Andiko

Niniek yang barampek yang tersebut diatas yaitu Datuak Perpatih nan Sabatang, Datuak Perpatih Suanggi, Datuak Paduko dan Datuak Rajo Mangawal.

Malin yang barampek yang tersebut diatas yaitu Angku nan Solieh, Angku Lobai Gulombang, Angku Pokieh Sutan dan Angku Khatib Muhammad.

Datuak nan 16 yang tersebut diatas yaitu :

Di caniago Datuak Mogek Kiay Selaku sondi Adat, Datuak Mongguang, Datuak Paduko Sinaro, Datuak Rangkayo Molieh dan Datuak Paduko Sarindo.

Di Malayu Datuak Panghulu Dubalang selaku Sondi Adat, Datuak Sirajo, Datuak Tambijayo, Datuak Mangkuto Alam dan Datuak Gindo Jalelo.

Di Patopang Datuak Rajo Bagagar selaku Sondi Adat, Datuak Sampono Cayo dan Datuak Majo Indo.

Di Piliang Datuak Sumurajo selaku Sondi Adat, Datuak Ponji Alam dan Datuak Tombo Gogar.

Datuak nan Balimo yang tersebut diatas yaitu :

Di Caniago Datuak Amal Panghulu, Di Malayu Datuak Panghulu Besar dan Datuak Tanaro, di Patopang Datuak Sampan Panghulu, dan di Piliang Datuak Indo Mangkuto.

Panghulu Andiko yang tersebut diatas yaitu :

Di Caniago yaitu Datuak Rajo Kuaso, Datuak Mogek Kiay, Datuak Amal Panghulu dan Datuak Rajo Panghulu (ini dinamokanbakorong Godang).

Di Malayu yaitu Datuak Panghulu Melayu, Datuak Tanaro, Datuak Majo Besar, Datuak Paduko Alam (ini dinamakan melayu nan ampek), Datuak Sirajo, Datuak Rangkayo Mudo, Datuak Panghulu Besar (Bendang nan Tigo) Datuak Tambijayo, Datuak Sirajo, Datuak Mangkuto Alam, Datauk Gindo Jalelo (Ampek Niniek), Datuak Panghulu Besar, Datuak Majo lelo, Datuak Panghulu Dubalang, Datuak Bandaro Kuniang, Datuak Tamandaro, Datuak Incek Bungsu, Datuak Tombo Tua,  Datuak Gunuang Alam, Datuak Patieh Bungsu, Datuak Parmato Bungsu (ini dinamakan sapuluah rumah).

Di Piliang yaitu Datuak Monggung.

Untuk pusako yang berpantang disebut gelar di Nagari adalah panggilan Niniek adalah Inyiek (rang Gaek), Panggilan untuk monti Niniek yaitu Monti Godang dan untuk panggilan sondi Adat adalah Datuak Rumah buwa Kambigh (Datuak Mogek Kiay), Datuak Payolowe (Datuak Panghulu Dubalang), Datuak Guguak Aru (Datuak Rajo Bagagar dan Datuak Koto Baru (Datuak Sumurajo.

Balai Adatnya Balanggam kiri dan kanan serta ditengah-tengah ada ruang putuih (pamocah ruang) sebagai lobuah kudo Datuak Rajo Dubalang.

Kebesaran dari masing-masing pusoko sebagai berikut;

  1. Pusoko nan sapuluah di ate; Untuak ka pai tampek batanyo kembali tempat babarito oleh datuak nan 16 (melalui monti Niniek yang lasim disebut Monti Gadang yang pusokonya terdiri dari Datuak Intan Bosag, Datuak Mantiko Sati, Datuak Rajo Batuah dan Datuak Rajo Aceh)
  2. Datuak nan 16 ; yang diberi tugas oleh Pusoko nan 10 di ate untuk menjalankan Adat dan Pusoko yang berlaku di nagari aur , Adat salingka nagari (biang cabiek gantiang putuih) dalam penyelesaian perkara Adat dan Datuak 16 dikepalai oleh 4 orang Datuak Sondi Adat, didalam tugas ujung jari sambung lidah dari nan 10 di ate adalah Monti Gadang.
  3. Datuak nan 5 (balimo); Datuak nan balimo berada di Padang Bonai yang bertugas apabila terjadi masalah di Padang Bonai dalam penyelesaiannya oleh Datuak nan 5 (balimo), apabila belum dapat penyelesaiannya dinaikan ke Datuak nan 16 disitu biang cabiek gantiang putuih oleh datuak nan 16.
  4. Datuak Panghulu Andiko ; diberi kekuasaan memimpin adat dengan syarak dikampuang masing-masing beserta dengan ke empat jinni nya.

Tahun 1837 rakyat Nagari Aur pernah membantu  rakyat lintau Buo dan 50 kota dengan beras dan makanan melalui sebuah bukit antara nagari Buo dengan Lubuk jantan, bukit yang bernama bukik guliang beras karena dari sana beras digulingkan untuk makanan angkatan perang Paderi dan rakyat Lintau Buo.

Kemudian pada tahun 1918 Nagari ini dirobah namanya menjadi Nagari Tanjung Bonai Aur dan semasa itu nagari ini berlareh ke Buo.

Tahun 1918 selesai perang dunia pertama daerah Tk II Tanah Datar dan Swl/Sijunjung kekurangan makanan,maka oleh Contraktiur Sijunjung dipaksakan pada rakyat Tanjung Bonai Aur untuk menjual padi untuk makanan rakyat tersebut di atas.

Pada waktu Clasehe ke II tahun 1948-1949 selama 3 bulan di nagari Tanjung Bonai Aur ditempatkan Pemerintah PDRI staf Gubernur militer sumatera tengah dan staf Bupati Militer swl/Sijunjung  yaitu dari bulan januari s/d april 1949 dan tanggal 30 juni 1949, Nagari Tanjung Bonai Aur di bumi hanguskan oleh kerajaan Belanda Puluhan rumah Adat dan rumah lainnya dibakar dan puluhan ternak ditembaki oleh tentara Belanda.

Pada tanggal 18 Februari 1949 di mesjid Tauhid Pincuran Tujuh Koto Gadang dilaksanakan pembentukan Kabupaten Sawahlunto Sijunjung , pada waktu itu oleh Gubernur Sumatera Tengah Tengku Muhammad Hasan menunjuk Sulaiman Tantuah Bagindo Ratu sebagai kurir sekaligus sebagai Bupati Sawahlunto Sijunjung karena jabatan Bupati militer sedang kosong (Bupati sebelumnya Jamaris Yahya di tangkap Belanda). Pada waktu itu Sulaiman Tantuah Bagindo Ratu selaku kurir mengantarkan surat kepada Mr Syafrudin Prawira Negara ke pusat pemerintahan di Suliki Waktu itu bermalam dirumah guru Syukur di Koto Gadang. Dalam rangka kab Tanah Datar dibagi dua yaitu Kab Swl/Sijujung dan Kab Tanah Datar, Kemudian 3 bulan menjabat Bupati Sulaiman Tantuah Bagindo Ratu ditarik ke pusat pemerintahan PDRI (koto tinggi paya kumbuh).

Kemudian dalam pelaksanaan muyawarah Pemerintahan Kabupaten yang dilaksanakan di Mesjid Tauhid Pincuran Tujuah Koto Gadang pada tanggal 18 februari 1949 dan selanjutnya Gubernur sewaktu itu telah mengangkat seorang tokoh masyarakat asal putra daerah yaitu Jarjis Bebas Tani sebagai Bupati Swl/Sijunjung.

Pada bulan Maret 1949 rapat dilanjutkan diSurau Pincuran Ondah dan sebelumnya di Surau Maco masing-masing surau tsb milik Dt Monggung dan Engku Oyok. Kemudian dilanjutkan dengan pembentukan kewedanaan 3 dan kecamatan 5 buah, kecamatan Sumpur Kudus dengan camatnya Rifa’i kantor di Tanjung Bonai Aur. Waktu itu dihadiri oleh para Menteri dalam rangka PDRI; Mr Syafrudin Prawira Negara (Presiden PDRI),Tengku Muhammad Hasan (Gubernur Sumatera Tengah), Ir Sitompul (Menteri Pekerjaan umum), Ir Indra Jaya (Menteri Perhubungan).

Tahun 1952 kantor Camat Sumpur Kudus di pindahkan ke Kumanis sampai sekarang.

Pada tahun 1965 dilakukan renovasi terhadap mesjid Tauhid pincuran tujuh dari memakai tonggak kayu menjadi permanen.

Tahun 1983 oleh pemerintah Kabupaten Swl/Sijunjung dengan Bupati nya Kol.Noer Bahri Pamuncak di bangun Tugu Monumen Hari jadi Kabupaten Swl/Sijunjung yang bertempat di koto Gadang Kenagarian Tanjung Bonai Aur yang Lokasinya tidak jauh dari mesjid Pincuran Tujuh.

Kepemimpinan Pemerintah Nagari Tanjung Bonai Aur

Nagari Tanjung Bonai Aur di Pimpin dengan beberapa orang Datuak Palo, Kepala Desa dan Wali Nagari, yakni :

No.

Nama dan Gelar

Jabatan

Periode

1.

Datuak Palo Godang

Datuak Palo

1945 - 1960

2.

Munap Dt. Tombo Tua

Datuak Palo

1960 - 1966

3.

Djamiruddin Dt. Sampono Cayo

Wali Nagari

1966 - 1974

4.

Mr. Dt. Perpatih Suanggi

Wali Nagari

1974 - 1983

5.

Sabirin Dt. Mangkuto Alam

Kepala Desa

 

6.

Anwar Malano

Kepala Desa

 

7.

Hasan Basri Pokie Jalelo

Kepala Desa

 

8.

Ali Rahman

Kepala Desa

 

9.

Sunardi

Kepala Desa

1999 - 2001

10.

Sunardi

Wali Nagari

2001 - 2008

11.

Ali Majurin Palindi

Plt. Wali Nagari

2008 - 2008

12.

Buyung Candra

Wali Nagari

2008 - 2014

13

Masri

Plt. Wali Nagari

2014 - 2015

14.

Adam, A.Ma

Wali Nagari

2015 - 2021

15.

Hendra Basri, A.Md. NL.P

Wali Nagari

2021 - sekarang

 

Pemekaran Nagari

Tahap – tahap Pemekaran Nagari

  1. Pada tanggal 4 Juni 2008 dari Kantor Camat Sumpur Kudus Mengundang Nagari untuk sosialisasi Peraturan Bupati Nomor 10 tahun 2008 tentang Tata cara pemekaran dan pengabungan Nagari bertempat di UDKP Kecamatan Sumpur Kudus dengan undangan untuk Nagari Tanjung Bonai Aur antara lain Wali Nagari,Ketua KAN, BPN, Kepala-kepala jorong dan Pemuka Masyarakat. Dan untuk Nagari Tanjung Bonai Aur dari Ketua KAN Sdr.AR.Peto Sori, dari BPN Sdr. Ishak S.pd, dari Kepala jorong Koto Gadang Sdr.Kariman, dari Kepala jorong Koto Puntian Sdr. M.Rusyid dan dari pemuka masyarakat Sdr. Emri Sardi. Sosialisasi tersebut disampaikan  oleh Kabag Pemerintahan Bapak Drs. Sukri bersama tim.
  2. Pada tanggal 11 Juni 2008 Diadakan rapat aspirasi mengenai Perbup. Nomor 10 tahun 2008 yang bertempat di Masjid Ikhlas Koto Gadang yang mengundang adalah kepala jorong koto gadang sdr. Kariman dan kepala jorong koto puntian sdr. M.Rusyid, yang hadir pada malam tersebut hadir pemuka masyarakat sebanyak 22 orang dan ditambah untuk menandatangani daftar hadir dari masyarakat yang tidak sempat hadir sehingga total yang menandatangani daftar hadir sebanyak 44 orang dengan nama yang hadir adalah ; Yusnimar, Netty, Sy.Rajo Palowan, Kariman, Emri Sardi, Marwan.K, Bujang TS, Ong Rusdi, Yusahar, MA.Dt.Mogek Kiay, Zulkifli, Syafi’i, Buyung Candra, Syahirun, Hajinur, Agusmi Desben, A.Dt.Rajo Aceh, Masri.MA, Ishak, AR.Peto Sori, J.Rajo Bangke, M.Rusyid, Bujang Rahman, Nasri Volta, Joni D, Efrianto, Dedi M.P, Nofriandi, Suherman, Ayendra Roma, Hendri, Sufri Ayoyon, Firman, Jasril, Isal, Artos, Jondra Volta, Fen, Yulhendri, Afrisal, Putri Wati, Afriyon, B.Dt.Manjo Besar, Nitra Yunita, Puspita Dewi .
  3. Pada tanggal 14 Juni 2008 Hasil rapat Aspirasi tanggal 11 Juni 2008 tersebut disampaikan kepada BPN yang suratnya ditandatangani oleh pemuka masyarakat (1). B.Dt.Manjo Besar, (2). Sy.Rajo Palowan, (3). Emri Sardi dan diketahui oleh Kepala jorong Koto Gadang (Kariman) dan kepala jorong Koto Puntian (M.Rasyid).
  4. Pada tanggal 11 Juli 2008 BPN yang diketuai oleh Ishak S.pd melakukan rapat bersama anggota yang dihadiri oleh Pemerintahan Nagari dan Kerapatan Adat Nagari, BPN yang hadir adalah : Ishak. S.pd, Saridin, W. Pokieh Kadli, Agusmi Desben, S.Ag, Rustam Dt. Rangkayo Molie, Netty Rasyid, dari Pemerintah Nagari yakni : Masri. Ma dan dari KAN yaitu AR.Peto Sori dan MA. Dt. Mogek Kiay, serta ikut hadir Kariman dan Emri Sardi, dan BPN membuat keputusan tentang pemekaran nagari Tanjung Bonai Aur Selatan.
  5. Pada tanggal 26 Juli 2008 Kerapatan Adat Nagari melakukan rapat bersama Ninik Mamak dan dapat memberikan persetujuan tentang pemekaran Nagari secara administratif pemerintahan dengan Kerapatan Adat Nagari (KAN) tetap satu sesuai penyampaian Pembina KAN, karena ini tidaklah menyangkut tentang jirad, yang hadir adalah Muhammad Rasyid Dt.Perpatih Suanggi, Taslim Dt. Paduko, Khairunas Angku Labai, Wasirman Angku Pokieh Kadli, S.Dt.Rajo Batuah, Arjunaidi.Dt.Rajo Aceh, Muhammad Akhirlo Dt.Mogek Kiay, Rustam Dt.Rangkayo Molieh, Muhammad Tahir Dt. Paduko Sinaro, Abdul Muluk Khatib Bandaro, Asrun Dt. Patieh Bungsu, Muslimin Wk Dt. Tombo Tua, W.Dt.Tombo Gogar, D.Dt. Permato Bungsu, Abdul Rahman.Peto Sori, Dt. Tamandaro, Bujang Dt. Majo Besar, Ali Dt. Panghulu Melayu, Sy. Rajo Palowan, Ishak, Kariman, Emri Sardi .
  6. Pada tanggal 31 Juli 2008 Pelaksana Tugas Wali Nagari Tanjung Bonai Aur yaitu Ali Majurin Palindi menandatangani surat permohonan pemekaran nagari yang dialamatkan pada Bapak Bupati Sijunjung melalui camat Sumpur Kudus dengan tanggal surat 29 Juli 2008 dan Pada tanggal 31 Juli 2008 tersebut Camat Sumpur Kudus memberikan rekomendasi tentang pemekaran Nagari yang ditandatangani oleh Bapak Drs.Delta selaku Camat.
  7. Pada tanggal 23 Agustus 2008 Diadakanlah rapat pembentukan Badan Persiapan Pemekaran Nagari yang tugasnya adalah untuk penantian Tim Verifikasi dari kabupaten yang mengundang rapat adalah kepala jorong koto gadang (Kariman) dan kepala jorong Koto Puntian (M.Rasyid). dengan susunan pengurus adalah sebagai berikut : Ketua Sdr. Ar.Dt.Rajo Aceh, Wakil ketua Masrijal, Sekretaris I Emri sardi, Sekretaris II Nofrijal, Bendahara Netty.Rasyid, Seksi tempat/tamu; (1). Buyung Candra (2). Sahirun (3). Asniati (4). Jamawarti, tempat untuk menginap yang disediakan untuk Tim Verifikasi dari Kabupaten adalah di rumah : (1). Sy.Rajo Palowan, (2). Zulkifli, (3). Netty Rasyid, (4). Ar. Dt. Rajo Aceh. Tim Verifikasi kabupaten ini rencananya akan turun pada awal bulan September 2008 (bulan Ramadhan) dan ini kegiatan ini tidak jadi terlaksana sesuai dengan waktu yang ditentukan.
  8. Pada tanggal 24 September 2008 Sehubungan belum turunnya Tim Verifikasi kabupaten maka Badan Persiapan Pemekaran Nagari membuat surat yang diketahui oleh Pelaksana Tugas Wali Nagari AM. Palindi yang ditujukan kepada Bapak Bupati Sijunjung melalui Camat untuk menurunkan Tim Verifikasi.
  9. Pada tanggal 7 Desember 2009 Tim Verifikasi Pemekaran Nagari kabupaten Sijunjung yang di ketuai oleh bapak Syukur Hamidi (Asisten I) melakukan Verifikasi dengan masyarakat pada malam hari dengan tempat penantian dirumah AR. Dt.Rajo Aceh yang mempersiapkan makanan kaum ibuk-ibuk di jorong Koto Gadang dan siangnya langsung melakukan peninjauan lapangan, yang hadir pada malam tersebut adalah T. Dt. Paduko, W. Pokieh Kadli, S. Dt. Rajo Dubalang, Ar. Dt. Rajo Aceh, Kariman, R. Dt. Rangkayo Molie, MA. Dt. Mogek Kiay, AM. Dt.Gindo Jalelo, AR. Peto Sori (Ketua KAN), Syukur Hamidi (Asisten I), Jhon Iswar (Camat Sumpur Kudus), Amri Suza (sekretaris Dukcapil), L. Dt. Bandaro Bujang (Sek. LKAAM Kab.), Emil Evan (Bag Adm Pemerintahan), Hendry Chaniago (Kabid Pemnag BPMPN), Adlim Akbar (Inspektur Pembantu Wil-IV), Arif Budiman (Bag Adm Pemerintahan, Yan Hadian (Kesbangpol dan Linmas), Kariman, Umar Amris, Syahirun, Indra Eka Putra, Syafi’i, Sarman.B, Emri Sardi, M.Rusyid (Kepala Jorong Koto Puntian), Arman j, Zulkifli, Masri.M, Sy.Rajo Palowan, HM.Peto Berain, Arismen, A.Dt.Patieh Bungsu, Agustar, Bujang TS, Masri MA Podo Sutan, Alpen MP, Suharni, Herman, Fadli Andeko, Hendri, Dedi MP, Salmitra, Ali Imran, Jasril, Darwas, D.Rajo Kondo, Masrijal, Bujang Rahman, Muslimin, Afriyon, Jalinus, Sefriyidi Yanti, Syambiah, Khairusani, Nurhayati, Yossi Nofrita, Jamawarti, Netty, Asniati, Tuti Lifia G, Sulastry, Sriwidiawati, Nofridayati, Robet, Fent Fayola, Jusa Apris, Azizah, Lesti Fatria, Salsa, Lufti, Nurmani.
  10. Pada tanggal 8 Desember 2009 Kerapatan Adat Nagari mengeluarkan Piagam/Perjanjian yang ditandatangani Ketua KAN Ar. Peto Sori dan Sekretaris KAN MA. Dt. Mogek Kiay dengan isinya:
  11. Tidak merusak tatanan Adat yang berlaku turun temurun salingka Nagari.
  12. Akan tetap memelihara dan melestarikan kelangsungan pemakaian Adat Istiadat sesuai dengan semboyan Adat “Syarak Mangato Adat mamakai”.
  13. Tidak dibenarkan memakai cucu kemenakan ninik Mamak sebagai Aparat Pemerintahan Nagari yang mempunyai masalah dengan (1) Ninik Mamak Kampung/Tungganai, (2) Ninik Mamak Suku/Kampung, (3) Ninik Mamak Nagari/Pucuk.
  14. Baik Nagari Induk maupun Nagari Pemekaran tetap berada dalam satu kesatuan Wilayah Hukum Adat dengan satu Kerapatan Adat Nagari Tanjung Bonai Aur.

Untuk melengkapi berkas pada tanggal 8 Desember 2009 dibuat surat keterangan Penyerahan Hibah Tanah untuk dijadikan Sarana Prasarana Kantor Wali Nagari Pemekaran antara pihak Pertama yaitu MA.Dt.Mogek Kiay dan MT.Dt Paduko Sinaro atas nama suku Caniago kepada Pihak Kedua Buyung Candra atas nama Wali Nagari Tanjung Bonai Aur  dan Mengetahui Ar.Peto Sori selaku Ketua KAN. 

Juga untuk melengkapi berkas pada tanggal 11 Desember 2009 dikeluarkan Surat Pernyataan Ninik Pucuak Nagari Tanjung Bonai Aur yang ditandatangani oleh MR.Dt.Perpatih Suanggi, T.Dt.Paduko dan Sy.Dt.Rajo Dubalang yang isinya :

  1. Untuk Pemekaran Nagari secara Administratif Pemerintahan setuju menjadi dua, dengan nama Nagari Induk Tanjung Bonai Aur dan Nagari Pemekaran Tanjung Bonai Aur Selatan.
  2. Pemekaran Nagari secara Administratif Pemerintahan ini tidak merubah tatanan adat Istiadat yang berlaku salingka Nagari Adat Tanjung Bonai Aur.
  3. Pembagian Wilayah Nagari Administratif Pemerintahan Sesuai dengan batas Wilayah Jorong Koto Gadang, Jorong Koto Puntian dengan Jorong Bonai, Jorong Koto Tinggi.
  4. Pada tanggal 11 Desember 2009 Wali Nagari Tanjung Bonai Aur mengeluarkan Peraturan Nagari Nomor 16 Tahun 2009 tentang Pemekaran Nagari yang di tanda tangani oleh Wali Nagari Buyung Candra dan diundangkan pada tanggal yang sama oleh Sekretaris Nagari AM. Palindi.
  5. Pada tanggal 14 Desember 2009 Wali Nagari Tanjung Bonai Aur mengeluarkan Peraturan Nagari Tanjung Bonai Aur Nomor 17 tahun 2009 tentang Persepadanan (Tapal Batas) Nagari Pemekaran Tanjung Bonai Aur Selatan yang di tanda tangani oleh Wali Nagari Buyung Candra dan diundangkan pada tanggal yang sama oleh Sekretaris Nagari AM.Palindi.
  6. Pada tanggal 4 Oktober 2010 Bapak Bupati Sijunjung mengundang panitia/pemuka masyarakat yang menandatangani surat aspirasi bersama Wali nagari Induk dan Ketua BPN yang bertempat di Operasion Room Kantor Bupati yang menghadiri acara tersebut adalah Wali Nagari Induk Buyung Candra, Ketua BPN Ishak S.Pd, Pemuka masyarakat Sy.Rajo Palowan dan Emri Sardi.
  7. Pada tanggal 13 Oktober 2010 Badan Persiapan Pemekaran Nagari Tanjung Bonai Aur Selatan mengundang Ninik Mamak/Pemuka masyarakat Jorong Koto Gadang dan Jorong Koto Puntian, Kepala Jorong dan Tata Usaha Jorong Koto Gadang dan Jorong Koto Puntian untuk hadir pada hari minggu tanggal 17 oktober 2010 jam 20.00 Wib di Masjid Ikhlas Koto Gadang yang menandatangani undang Ketua AR. Dt.Rajo Aceh dan Sekretaris Emri Sardi.
  8. Pada tanggal 17 Oktober 2010 Diadakan musyawarah dimasjid Ikhlas Koto Gadang dan penyampaian Perbup nomor 34 tahun 2010 tentang pemekaran nagari Tanjung Bonai Aur Selatan, dalam musyawarah tersebut disepakati yang akan menjadi Penjabat Wali Nagari persiapan Tanjung Bonai Aur Selatan adalah Sdr. Ar. Peto Sori dan dengan sendirinya beliau mengundurkan diri sebagai Ketua KAN, yang hadir dalam rapat tersebut adalah : T. Dt. Paduko, AM. Khatib Bandaro, MA. Dt. Mogek Kiay, Sy. Rajo Palowan, Emri Sardi, Hendri, Parisman, Kariman, Syahirun, Afriyon, Dasril Rajo Kondo, Herman Julis, Muslimin, Salmitra, B.Dt.Manjo Besar, Alpen MP, Masri Podo Sutan, S. Tk.Kuning, Asniati, Yusnimar, Jamawarti, Sriwidia wati, HM. Peto Berain, Marwan.K, W. Pokieh Kadli, AR. Peto Sori, Syafi’i, Bujang Rahman, Ishak,S.Pd, AR. Dt.Rajo Aceh.
  9. Pada tanggal 2 Desember 2010 Keluarlah Surat Keputusan Bupati Sijunjung Nomor : 188.45/654/KPTS-BPT-2010 tentang Pengangkatan Penjabat Wali Nagari Persiapan Tanjung Bonai Aur Selatan Kecamatan Sumpur Kudus dan Pada tanggal 3 Desember 2010 Penjabat Wali Nagari Tanjung Bonai Aur Selatan Mengeluarkan Surat Keptusan Nomor : 188.45/01/KPTS-WN-2010 tentang Pengangkatan Perangkat Nagari Persiapan Tanjung Bonai Aur Selatan.
  10. Pada tanggal 10 Desember 2011 Keluar Peraturan Daerah kabupaten Sijunjung Nomor 10 Tahun 2011 tentang Pembentukan Nagari Sumpur Kudus Selatan, Nagari Tanjung Labuah dan Nagari Tanjung Bonai Aur Selatan Kecamatan Sumpur Kudus maka ditetapkanlah Nagari Administrasi Pemerintahan Tanjung Bonai Aur Selatan Nagari yang Defenitif. Pada bulan Mei tahun 2012 telah dilaksanakan pemilihan Wali Nagari yang pertama dengan Wali yang terpilih adalah saudara “ HENDRI” yang pelantikannya dilaksanakan pada tanggal 7 bulan Juni 2012.

Kirim Komentar

Nama
Telp./HP
E-mail

Komentar

Captha

Komentar Facebook

Statistik Desa

Aparatur Nagari

Pj. Wali Nagari

Hendra Basri, A.Md, NL.P

Sekretaris Nagari

Kendri Satria Gusman, S.Pd

Kaur Perencanaan

Arpan, S.Pd

Kasi Pelayanan

Fitri Asta

Kasi Kesejahteraan

ZULFENTRI

Kasi Pemerintahan

Liza Sepriyeni, S.Psi

Kaur Keuangan

Ivo Komela Sari, S.AP

Kaur Tata Usaha dan Umum

WAHYU HIDAYAT

Staf Kepala Jorong Koto Tangah

Gusmi Yenti

Kepala Jorong Koto Tangah

Dendi Arnas, S.H.I

Kepala Jorong Loban Bungkuok

IMRA JUNAIDI, S.S

Kepala Jorong Pauh

Andreka Gusman, S.Pd

Kepala Jorong Koto Tinggi

Irvan Krismon Dalpen, S.E

Kepala Jorong Koto Tangah

Miko Nofrisal

Staf Kaur TU dan Umum

Syahrul Idris

Staf Kepala Jorong Loban Bungkuok

RENI SUSANTI

Staf Kepala Jorong Koto Baru

Rosmaneli

Staf Kepala Jorong Koto Tinggi

Susi Rosmayanti

Staf Kepala Jorong Pauh

Afni Dewita

Staf Kasi Pelayanan

Okta Nova, S.AP

Staf Kasi Kesejahteraan

Oktomatriana, S.Pd

Staf Administrasi BPN

Biecetia afraezi Gusnaedi, S.S

Kepala Jorong Koto Baru

Wendra Pratama

Layanan Mandiri
Layanan Mandiri
Layanan Mandiri
Layanan Mandiri

Nagari Tanjung Bonai Aur

Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, 13

Galeri Video

Video Desa 1
Video Desa 2
Video Desa 3
Video Desa 4
Video Desa 5

Arsip Artikel

Media Sosial

Statistik Pengunjung

Hari ini:34
Kemarin:62
Total:8,140
Sistem Operasi:Unknown Platform
IP Address:216.73.217.95
Browser:Mozilla 5.0

Transparansi Anggaran

APBN 2026 Pelaksanaan

Pendapatan

AnggaranRealisasi
Rp 1.327.742.332,00RP 744.002.974,00

Belanja

AnggaranRealisasi
Rp 1.345.138.112,94RP 423.943.142,00

Pembiayaan

AnggaranRealisasi
Rp 17.395.780,94RP 0,00

APBN 2026 Pendapatan

Hasil Usaha Nagari

AnggaranRealisasi
Rp 11.000.000,00RP 0,00

Hasil Aset Nagari

AnggaranRealisasi
Rp 1.200.000,00RP 0,00

Dana Desa

AnggaranRealisasi
Rp 369.631.000,00RP 369.631.000,00

Bagi Hasil Pajak Dan Retribusi

AnggaranRealisasi
Rp 81.084.332,00RP 0,00

Alokasi Dana Nagari

AnggaranRealisasi
Rp 842.827.000,00RP 374.160.155,00

Bantuan Keuangan Kabupaten/Kota

AnggaranRealisasi
Rp 18.000.000,00RP 0,00

Bunga Bank

AnggaranRealisasi
Rp 4.000.000,00RP 211.819,00

APBN 2026 Pembelanjaan

Bidang Penyelenggaran Pemerintahan Nagari

AnggaranRealisasi
Rp 939.754.920,94RP 354.828.142,00

Bidang Pelaksanaan Pembangunan Nagari

AnggaranRealisasi
Rp 184.667.000,00RP 51.115.000,00

Bidang Pembinaan Kemasyarakatan Nagari

AnggaranRealisasi
Rp 99.685.600,00RP 0,00

Bidang Pemberdayaan Masyarakat Nagari

AnggaranRealisasi
Rp 84.430.592,00RP 0,00

Bidang Penanggulangan Bencana, Darurat Dan Mendesak Nagari

AnggaranRealisasi
Rp 36.600.000,00RP 18.000.000,00

Lokasi Kantor Nagari

Latitude:-0.5369955956719064
Longitude:100.83614856004716

Nagari Tanjung Bonai Aur, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung - Sumatera Barat

Buka Peta

Wilayah Nagari